Sutomo, atau Bung Tomo (1920–1981), menjadi tokoh penting dalam Revolusi Nasional
pasca-Proklamasi melalui perlawanan rakyat Surabaya pada 10 November 1945. Ia
memanfaatkan radio untuk membangkitkan nasionalisme, memotivasi rakyat melawan
pasukan Sekutu dan Belanda, serta menyatukan berbagai kelompok dalam aksi perlawanan
yang terorganisir. Bung Tomo menunjukkan bahwa kepemimpinan moral dan mobilisasi
massa sama pentingnya dengan strategi militer dalam mempertahankan kemerdekaan (Ismail,
1995).
Selain mobilisasi moral, Bung Tomo juga terlibat dalam koordinasi strategi pertahanan kota,
pengelolaan logistik, dan komunikasi dengan tokoh militer serta sipil. Keberaniannya
menjadikan Peristiwa Surabaya 10 November 1945 simbol revolusi fisik dan moral, sekaligus
inspirasi nasionalisme bagi seluruh rakyat Indonesia. Strategi yang ia terapkan menunjukkan
bahwa propaganda moral yang disertai tindakan nyata bisa menentukan hasil perlawanan
rakyat terhadap penjajah (Ismail, 1995).
Bung Tomo (Jawa Timur)
