Sultan Hasanuddin (1631–1670) merupakan Raja Gowa ke-16 yang dikenal sebagai simbol
keberanian dari Timur Nusantara. Ketika Belanda melalui VOC berusaha memonopoli
perdagangan rempah-rempah di kawasan timur Indonesia, Sultan Hasanuddin menolak keras
kebijakan itu. Ia menyadari bahwa monopoli tersebut tidak hanya merugikan ekonomi rakyat
Makassar, tetapi juga mengancam kedaulatan Kerajaan Gowa sebagai kekuatan besar di
wilayah timur (Abdullah, 1996).
Di bawah kepemimpinannya, pasukan Gowa bertempur sengit melawan Belanda antara tahun
1660 hingga 1669. Meskipun akhirnya harus menandatangani Perjanjian Bungaya pada tahun
1667, yang isinya merugikan pihak Gowa, semangat juangnya tidak pernah padam. Ia terus
berjuang hingga akhir hayatnya.
Julukan “Ayam Jantan dari Timur” diberikan oleh Belanda karena keberaniannya yang luar
biasa di medan perang. Warisan semangatnya menginspirasi rakyat Makassar untuk terus
menolak penindasan dan menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme (Harsja, 2002)
Sultan Hasanuddin (Makassar)
